Ciptakan Kawasan Perikanan Berkelanjutan, Tiga Kecamatan di Muna Target Program PAAP

Program Monitoring PAAP dalam hal mengukur ukuran dan kelayakan ikan hasil tangkap nelayan
Program Monitoring PAAP dalam hal mengukur ukuran dan kelayakan ikan hasil tangkap nelayan

TEGAS.CO,. MUNA – Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP) merupakan salah satu bentuk pengelolaan kawasan perikanan secara berkelanjutan. Dimana akses tertentu diberikan kepada sebuah unit sosial masyarakat untuk memanfaatkan dan mengelola suatu wilayah perairan (perikanan) guna memastikan keberlanjutan ketersediaan sumberdaya secara bertanggungjawab.

Program itu dimotori/diinisiasi oleh RARE Indonesia, salah satu NGO atau LSM terbaik yang menginsipirasi perubahan sehingga manusia dan alam berkembang, menerapkan tekhnologi yang telah disempurnakan untuk menghadapi berbagai ancaman konservasi, melaksanakan kampanye pemasaran sosial untuk mendukung konservasi, serta memiliki salah satu tekhnologi sosial paling penting untuk melindungi ekosistem dan keanekaragaman hayati.

Untuk wilayah Sulawesi Tenggara, lokasi/kawasan PAAP berada di 19 titik yang tersebar di wilayah administratif Konawe Utara, Konawe Selatan, Konawe Kepulauan, Buton Utara, Muna, Buton, Wakatobi, Buton Selatan, Buton Tengah, Bombana dan Muna Barat.

Pendamping Teknis Program PAAP Sultra Site Pasikolaga Kab Muna, La Ode Muhammad Ramadan
Pendamping Teknis Program PAAP Sultra Site Pasikolaga Kab Muna, La Ode Muhammad Ramadan

Bicara tentang program tersebut, pendamping teknis program PAAP Sultra Site Pasi Kolaga Kabupaten Muna, La Ode Muhammad Ramadan, menyampaikan bahwa di Muna, lokasi/kawasan PAAP meliputi tiga wilayah kecamatan yakni Kecamatan Pasikolaga, Pasir Putih, dan Tongkuno. Nama kawasan PAAP di Muna adalah Pasi Kolaga. Nama tersebut diambil dari nama salah satu batu karang di perairan laut Kecamatan Pasikolaga yang dihuni oleh semut rang-rang dan makhluk ghaib.

“Dari tiga kecamatan yang terplot dalam kawasaan PAAP Pasi Kolaga, terdapat 11 desa yang wilayah lautnya terarsir kawasan PAAP, meliputi 4 desa di Pasi Kolaga (Kolese, Mata Indaha, Lambelu, Tampunabale); 6 desa di Pasir Putih (Labulawa, Kogholifano, Pola, Kamosope, Liwu Metingki, Bumbu), serta 2 Desa di Tongkuno (Tanjung dan Oempu),” ujarnya, Sabtu (13/2/2020).

Luas perairan laut kawasan PAAP Pasi Kolaga mencapai 30.900 hektar dengan panjang garis pantai 82 kilometer. Terbentang diantara Tanjung Laiworu pada koodinat S : 4.96187, E : 122.76161 hingga ke Desa Tanjung pada koordinat S : 5.19883, E : 122.62670 serta sampai di Tanjung Labulawa pada koordinat S : 5.11218, E : 122.75844 hingga ke Pulau Kogholifano pada koordinat S : 4.96948, E : 122.79558.

“Aktivitas perikanan yang dilakukan oleh masyarakat dan nelayan di kawasan PAAP Pasi Kolaga meliputi perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Komoditas perikanan budidaya di wilayah ini adalah ikan kerapu dan rumput laut,” katanya.

“Sementara kegiatan/aktivitas perikanan tangkap (penangkapan ikan) dilakukukan oleh sekitar 530 nelayan dari tiga kecamatan dengan rincian 150 nelayan di Kecamatan Tongkuno, 200 nelayan di Kecamatan Pasir Putih dan 180 nelayan di Kecamatan Pasi Kolaga,” sambungnya.

Lebih lanjut ia menuturkan beberapa jenis ikan hasil tangkapan nelayan dari kawasan PAAP Pasi Kolaga meliputi ikan-ikan demersal dan ikan-ikan pelagis. Diantara jenis ikan tersebut seperti kerapu, pari, kakap, sunu, tuna, cakalang, tenggiri, lobster, udang kipas, dan lain-lain.

Di kawasan PAAP Pasi Kolaga, khususnya di Desa Labulawa dan Desa Kolese, terdapat ritual adat atau tradisi adat yang berkaitan dengan aktivitas pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut.

“Fakta lain terkait dengan kawasan PAAP Pasi Kolaga adalah bahwa wilayah perairan laut tersebut merupakan Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Muna. Seluruh wilayah laut kawasan PAAP Pasi Kolaga masuk dalam KKPD Muna yang ditetapkan pada tanggal 1 September 2014 melalui SK Bupati Muna Nomor 508 Tahun 2014,” ucapnya.

“Dalam SK Bupati Muna tentang Pencadangan KKPD Muna itu, tercatat luas KKPD mencapai 76.417,16 hektar, berlokasi di pesisir dan laut Selat Buton Kabupaten Muna. Jenis kawasan konservasi adalah Taman Wisata Perairan (TWP),” lanjutnya.

Kawasan PAAP Pasi Kolaga menghadapi banyak masalah dan tekanan cukup berat. Sejumlah aktivitas tidak ramah lingkungan dan aktivitas merusak kerap terjadi. Diantara aktivitas yang merusak dan tidak ramah lingkungan itu seperti penangkapan ikan dengan penggunaan bahan peledak (bom), penambangan pasir laut di wilayah pesisir, dan pengambilan batu karang untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pembangunan di daratan.

“Aktivitas destruktif, khususnya penangkapan ikan dengan bahan peledak telah menjadi masalah serius. Sejumlah kalangan masyarakat (nelayan lokal) cukup gerah dengan keadaan ini karena mempengaruhi hasil tangkapan ikan bagi nelayan kecil yang menggunakan perahu/sampan dan alat tangkap pancing,” katanya.

Sementara isu dan masalah lain yang juga terjadi di lokasi PAAP Pasi Kolaga adalah abrasi/erosi pantai, kenaikan permukaan air laut, dan menurunya kualitas air baku untuk air minum, penurunan pendapatan nelayan saat musim paceklik atau saat musim ombak dan angin kencang, konflik antara nelayan lokal dan nelayan luar, penyakit rumput laut (ice-ice), perambahan kawasan hutan di daerah pesisir pantai.

“Terkait pelaksanaan program PAAP, pada semester awal sejak Januari – Juni 2019 telah dilakukan sejumlah kegiatan pengambilan data. Kegiatan-kegiatan yang telah berjalan dengan sumber pendanaan penuh dari RARE adalah sosialisasi program PAAP kepada para pemangku kepentingan, pengambilan data secara partisipatif (PRA), survei manta tow, survei kondisi biofisik perairan, survei profil perikanan, pendataan nelayan, dan identifikasi pembeli,” tutup kasi data budidaya Dinas Perikanan Muna itu.

Reporter : FAISAL

Editor : YA